Buku ‘Nabi’ Sayuti Terbit Sejak 2005

Dua buku karangan Muhammad Sayuti, salah satunya diterbitkan pada 2005. Bahkan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jabar telah menerima langsung dari tangan Sayuti pada 2006.

Buku berjudul “Kelalaian para pemuka agama dalam memahami kitab-kitab peninggalan nabi-nabi rasul Allah (Taurat, Injil, dan Alquran) dengan segala akibatnya”, bersampul abu-abu. Sampul buku bergambar setengah bola dunia yang disorot oleh cahaya dari atasnya, seperti cahaya matahari.

Dalam sampul buku tertulis Muhammad Sayuti (Ahmad Sayuti) sebagai penyusunnya. Diterbitkan pada 5 April 2005. Tidak dicantumkan nama penerbit. Tebal bukunya hanya 42 halaman.

Sementara itu, buku kedua berjudul “Mungkinkah Tuhanmu Murka” bersampul hijau dengan gambar yang sama seperti di buku pertama. Di bagian atas judul tertulis “berbagai bencana terus menerus menimpa bangsa Indonesia. Begitu pula ahlak moral sudah hampir merata”.

Kemudian di bagian bawah judul, tertulis “Karena itu mari mawas diri (instropeksi) bersama saya Muhammad (Ahmad Sayuti) sehingga semuanya menjadi jelas”. Tidak dicantumkan kapan buku ini diterbitkan dan penerbitnya. Hanya ada penjelasan dalam sampul muka jika buku ini adalah edisi kedua. Jumlah halaman pada buku kedua ini hanya 24 halaman.

Menurut Sekretaris Eksekutif ICMI Jabar Aep Saepuloh, sebenarnya ICMI telah menerima buku ini pada 2006. “Ahmad Sayuti bersama istrinya yang langsung datang ke saya. Saat itu saya terima saja. Dia bilang, tolong pelajari buku ini,” ujar Aep Kantor DPW Persis, Jl Pungkur, Selasa (5/2/2008).

Sementara itu Wakil Ketua DPW Persis Jabar Rahmat Nadjieb mengaku baru menerima buku itu Januari 2007 dari salah seorang anggotanya yang bekerja di KUA Bojongloa.

“Dalam waktu dekat kami akan segera melacak penerbitnya. Kami perkirakan penyebaran buku ini masih di Bandung,” ujar Rahmat.

Dalam buku kedua, Sayuti mengaku sebagai anggota Orwil ICMI Jabar. Hal ini dibantah keras Aep. Menurutnya tidak ada anggota ICMI Jabar bernama Muhammad Sayuti atau Ahmad Sayuti.

“Nama Ahmad memang banyak, tapi tidak ada yang namanya Sayuti,” bantahnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*